PENILAIAN
AUTENTIK
Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara
signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan,
dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran,
pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli,
nyata, valid, atau reliabel. Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan
dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika
menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar
peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi
pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar
sekolah.
Penilaian
autentik merupakan proses asesmen yang melibatkan beberapa bentuk pengukuran
kinerja yang mencerminkan belajar siswa, prestasi, motivasi, dan sikap yang
sesuai dengan materi pembelajaran. Penilaian otentik merupakan suatu
penilaian penampilan siswa dalam berbagai aktivitas tertentu. Newman dan
Wehlage (1993:12) menyatakan bahwa penilaian otentik adalah proses pengumpulan
data di mana siswa memahami dan menghasilkan pengetahuan yang bermakna.
Secara konseptual penilaian autentik lebih
bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar
sekali pun (Kemendikbud, 2013). Melalui penilaian autentik, guru dapat
mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa
pula kegiatan remidial harus dilakukan. Hal ini karena penilaian autentik
mencakup penilaian kinerja, portofolio, dan penilaian proyek yang didalamnya
juga melibatkan penilaian diri atau self assesment. Penilaian ini tetap
mencakup tiga ranah hasil belajar yaitu ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
Penilaian autentik dalam sistem Penilaian
pada KTSP tahun 2013 mengacu pada Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang
Standar Penilaian Pendidikan.
Tujuan penilaian autentik:
1. Perencanaan penilaian
peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan
prinsip-prinsip penilaian.
2. Pelaksanaan
penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif,
efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan
3. Pelaporan hasil
penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informative.
Penilaian autentik sering digambarkan
sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada
kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek.
Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana
mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu
menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya.
Jenis-jenis penilaian autentik yang
harus dilakukan guru adalah:
1.
Penilaian Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta
didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat
melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur
proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya.
Berikut ini cara merekam
hasil penilaian berbasis kinerja.
1. Daftar cek (checklist).
2. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative
records).
3. Skala penilaian (rating scale).
4. Memori atau ingatan (memory approach).
2.
Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan
kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu
tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Berikut ini tiga hal yang perlu diperhatian guru dalam
penilaian proyek.
1. Keterampilan peserta didik dalam memilih
topik, mencari dan mengumpulkan
data, mengolah dan
menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
2. Kesesuaian atau relevansi materi
pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
dibutuhkan oleh peserta didik.
3. Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau
dihasilkan oleh peserta didik.
3.
Portofolio
Penilaian
portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan
dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat
dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara
berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan
beberapa dimensi.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah
seperti berikut ini.
1. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian
portofolio.
2. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio
yang akan dibuat.
3. Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau
di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
4. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik
pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
5. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria
tertentu.
6. Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas
bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
7. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil
penilaian portofolio.
4.
Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis,
mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin
bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan
ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
Dengan berbagai jenis dan banyaknya penilaian
autentik mengakibatkan guru bisa terjebak dalam rutinitas penilaian
yang berlebihan, sehingga lupa bahwa tujuan utama pembelajaran adalah
pengembangan karakter siswa bukan penilaian.Agar guru tidak terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan atau guru
frustasi sehingga tidak melakukan penilaian yang seharusnya, dibutuhkan
pemahaman dan strategi dalam penilaian, khususnya penilaian aspek sikap yang
dianggap berat dan merepotkan guru, dapat dilaksanakan dan guru dapat tetap
fokus mengelola pembelajaran. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?
Menurut saya agar guru tidak terjebak pada beratnya penilaian tentu diawal tahun ajaran guru sudah menyiapkan segala instrumen penilaian yg akan dilaksanakan disatu semester kedapannya, sehingga saat pelaksanaan guru tidak kerepotan lagi. Intinya, perencanaan yg baik dan matang akan menjafikan guru lebih profesional melaksanakan penilaian terhadap siswanya.
BalasHapusSaya setuju dengan kak Eka. dengna menyiapkan bahan ajar terlebih dahulu memang dapat membuat kita tidak repot dalam membuat bahan ajar.
BalasHapusselain itu ada baiknya guru juga membuat Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. dan Skala penilaian (rating scale) untuk mempermudah guru dalam menilai sika siswa
menurut saya, dengan tujuan penilaian autentik yakni salah satunya Perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian. oleh karena itu agar guru tidak terjebak dengan penilaian-penilaian tersebut maka perlu dibuat rencana yang baik disesuaikan dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran.
BalasHapusDalam melaksanakan penilaian sikap dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi sikap yang digunakan langsung pada saat mengajar di kelas. Akan tetapi, tidak hanya menggunakan lembar observasi saja, tetapi juga dapat menggunakan catatn-catatan kecil yang khusus dimiliki oleh guru untuk menuliskan perkembangan sikap-sikap anak selama dalam proses pembelajaran yang nantinya akan diaumulasikan diakhir pembelajaran.
BalasHapusUntuk penilaian sikap guru memang harus menilai sikap siswa pada saat pertemuan, tetapi bkan hanya sikap sja pedoman guru untuk menilai siswa, dak menurut saya agar efektif pelaksanaan dlm penilaian lebih baik, dibuat catatan observasi penilaian yang mana yang dianggap aktif, disiplin, bertanggung jawab, hormat sebagai penilaian sikap, agar memudahkan guru untuk berfokus pada aspek 3 ranah penilaian.
BalasHapusagar guru tidak terjebak ketika melakukan penilaian, guru harus mempersiapkannya semuanya diawal semester, dan penilaian dilakukan pada saat proses pembelajaran
BalasHapussaya setuju dengan pendapat teman teman yang lain, bahwa perencanaan yang matang akan membantu guru. selain itu khusus untuk penilaian afektif siswa guru melaakukan nya dalam proses pembelajaraan. dan langsung disimpaan dalam fortopolio yang dapat kita lihat sewaktu waktu
BalasHapus