Rabu, 14 Maret 2018


PENILAIAN AUTENTIK

Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari  asli, nyata, valid, atau reliabel.  Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan  dibandingkan dengan  tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Penilaian autentik merupakan proses asesmen yang melibatkan beberapa bentuk pengukuran kinerja yang mencerminkan belajar siswa, prestasi, motivasi, dan sikap yang sesuai dengan materi pembelajaran. Penilaian otentik merupakan suatu penilaian penampilan siswa dalam berbagai aktivitas tertentu. Newman dan Wehlage (1993:12) menyatakan bahwa penilaian otentik adalah proses pengumpulan data di mana siswa memahami dan menghasilkan pengetahuan yang bermakna.
Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun (Kemendikbud, 2013). Melalui penilaian autentik, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Hal ini karena penilaian autentik mencakup penilaian kinerja, portofolio, dan penilaian proyek yang didalamnya juga melibatkan penilaian diri atau self assesment. Penilaian ini tetap mencakup tiga ranah hasil belajar yaitu ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Penilaian autentik dalam sistem Penilaian pada KTSP tahun 2013 mengacu pada Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Tujuan penilaian autentik:
1.  Perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian.
2.  Pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan
3.  Pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informative.

Penilaian autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya.
 Jenis-jenis penilaian autentik yang harus dilakukan guru adalah:

1. Penilaian Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya.
 Berikut ini cara  merekam hasil penilaian berbasis kinerja.
1.   Daftar cek (checklist).
2.  Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).
3.  Skala penilaian (rating scale).
4.  Memori atau ingatan (memory approach).

2. Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessmentmerupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Berikut ini tiga hal yang  perlu diperhatian  guru dalam penilaian proyek.
1.   Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan datamengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
2.  Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
3.  Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.

3. Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
1.   Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
2.  Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
3.  Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
4.  Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
5.  Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
6.  Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
7.  Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.

4. Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.

Dengan berbagai jenis dan banyaknya penilaian autentik mengakibatkan guru bisa terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan, sehingga lupa bahwa tujuan utama pembelajaran adalah pengembangan karakter siswa bukan penilaian.Agar guru tidak terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan atau guru frustasi sehingga tidak melakukan penilaian yang seharusnya, dibutuhkan pemahaman dan strategi dalam penilaian, khususnya penilaian aspek sikap yang dianggap berat dan merepotkan guru, dapat dilaksanakan dan guru dapat tetap fokus mengelola pembelajaran. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?


7 komentar:

  1. Menurut saya agar guru tidak terjebak pada beratnya penilaian tentu diawal tahun ajaran guru sudah menyiapkan segala instrumen penilaian yg akan dilaksanakan disatu semester kedapannya, sehingga saat pelaksanaan guru tidak kerepotan lagi. Intinya, perencanaan yg baik dan matang akan menjafikan guru lebih profesional melaksanakan penilaian terhadap siswanya.

    BalasHapus
  2. Saya setuju dengan kak Eka. dengna menyiapkan bahan ajar terlebih dahulu memang dapat membuat kita tidak repot dalam membuat bahan ajar.
    selain itu ada baiknya guru juga membuat Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. dan Skala penilaian (rating scale) untuk mempermudah guru dalam menilai sika siswa

    BalasHapus
  3. menurut saya, dengan tujuan penilaian autentik yakni salah satunya Perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian. oleh karena itu agar guru tidak terjebak dengan penilaian-penilaian tersebut maka perlu dibuat rencana yang baik disesuaikan dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran.

    BalasHapus
  4. Dalam melaksanakan penilaian sikap dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi sikap yang digunakan langsung pada saat mengajar di kelas. Akan tetapi, tidak hanya menggunakan lembar observasi saja, tetapi juga dapat menggunakan catatn-catatan kecil yang khusus dimiliki oleh guru untuk menuliskan perkembangan sikap-sikap anak selama dalam proses pembelajaran yang nantinya akan diaumulasikan diakhir pembelajaran.

    BalasHapus
  5. Untuk penilaian sikap guru memang harus menilai sikap siswa pada saat pertemuan, tetapi bkan hanya sikap sja pedoman guru untuk menilai siswa, dak menurut saya agar efektif pelaksanaan dlm penilaian lebih baik, dibuat catatan observasi penilaian yang mana yang dianggap aktif, disiplin, bertanggung jawab, hormat sebagai penilaian sikap, agar memudahkan guru untuk berfokus pada aspek 3 ranah penilaian.

    BalasHapus
  6. agar guru tidak terjebak ketika melakukan penilaian, guru harus mempersiapkannya semuanya diawal semester, dan penilaian dilakukan pada saat proses pembelajaran

    BalasHapus
  7. saya setuju dengan pendapat teman teman yang lain, bahwa perencanaan yang matang akan membantu guru. selain itu khusus untuk penilaian afektif siswa guru melaakukan nya dalam proses pembelajaraan. dan langsung disimpaan dalam fortopolio yang dapat kita lihat sewaktu waktu

    BalasHapus