DESAIN
PENILAIAN PERFORMANCE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
PENGERTIAN
ASSESSMEN
Assessmen
menurut Blaustein (Ibrahim, 2005) adalah proses mengumpulkan informasi dan
membuat keputusan berdasarkan informasi tersebut. Sejalan dengan itu, dalam
konteks pembelajaran, assessmen menurut Arends (2008) adalah proses pengumpulan
informasi dan sintesis oleh guru mengenai peserta didiknya dan kelasnya.
Merujuk pada tujuan assessmen dan kompetensi yang dilatihkan di sekolah, maka
diperlukan variasi rancangan strategi assessmen baik yang berupa tes maupun non
tes untuk memperoleh potret yang jelas mengenai kemajuan siswa yang diassess.
Assessmen
adalah sebuah proses yang berkelanjutan. Hal ini didasarkan pada tujuan atau
hasil belajar yang akan diukur dan kapan hasil belajar itu sebaiknya diukur. Ada
hasil belajar yang diukur selama proses pembelajaran, ada hasil belajar yang
baru dapat diukur setelah proses belajar mengajar selesai, bahkan ada hasil
belajar yang hanya dapat diukur jauh setelah proses belajar itu terjadi. Tujuan
utama asessmen adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, baik
proses maupun produknya. Selain itu, pengumpulan informasi dalam asesmen antara
lain bertujuan untuk: (1) memberikan informasi individu kepada siswa tentang
sejauh mana penguasaan kompetensi oleh siswa/peserta didik dan mengidentifikasi
kesulitan yang dialami, (2) memberikan informasi kepada guru tentang pemahaman
siswa mengenai kompetensi yang dilatihkan dan menentukan keberlanjutannya pada
kompetensi berikutnya, (3) memberikan diagnostik informasi kepada guru tentang
pemahaman individu siswa atau kesulitan siswa dalam memahami topik yang baru,
(4) memberikan informasi kepada guru tentang persepsi dan reaksi siswa terhadap
kelas, materi, problem, atau aktivitas tertentu, dan (5) membantu siswa
menemukan kelemahan dan kelebihan mereka dalam menguasai kompetensi dasar
matematika (Garfield, 1994). Sebagaimana mata pelajaran lainnya, penilaian
hasil belajar matematika disekolah harus mengikuti tuntutan standar penilaian
dalam Kurikulum 2013 yang telah ditetapkan pemerintah. Menurut Permendikbud No.
66 Tahun 2013, Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup:
penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan
harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat
kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian
sekolah/madrasah.
Asesmen merupakan bagian yang sangat
penting dan tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pembelajaran. Tujuan utama dari
asesmen adalah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa, bukan sekedar untuk
penentuan skor (grading). Oleh karena itu asesmen dimaksudkan sebagai suatu
strategi dalam pemecahan masalah pembelajaran melalui berbagai cara pengumpulan
dan penganalisisan informasi untuk pengambilan keputusan (tindakan) berkaitan
dengan semua aspek pembelajaran (Cole & Chan, 1994). Proses dari asesmen
biasanya memerlukan tingkat pemikiran analitis lebih tinggi daripada pengukuran
kemampuan. Asesmen pembelajaran biasanya memerlukan serangkaian upaya untuk
menjawab pertanyaan yang spesifik. Misalnya, seorang guru ingin mengungkap
permasalahan matematika apa yang dihadapi oleh seorang siswa, dan bagaimana
cara membantu siswa tersebut agar kemampuannya dapat berkembang secara optimal.
Tentu saja guru itu harus mengumpulkan banyak informasi mengenai siswa tersebut
seotentik mungkin melalui proses asesmen. Informasi seperti ini sangat membantu
guru mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi siswa sebelum ia memutuskan
tindakan yang akan dilakukan untuk membantu siswa tersebut. Di lain pihak,
asesmen dipandang sebagai kegiatan yang biasa dilakukan terpisah dari
pembelajaran dan umumnya dilakukan melalui tes pencapaian (achievement test).
Tes seperti ini biasanya dilakukan di akhir kegiatan pembelajaran untuk
mengukur hasil belajar siswa. Banyak argumen yang menyatakan bahwa tes
pencapaian sampai sekarang ini masih relevan untuk mengukur hasil dari proses
belajar dan menentukan siswa dalam kegiatan remediasi sebagai upaya penuntasan
belajar.
PENILAIAN
KINERJA
Penilaian
kinerja adalah penilaian yang dilakukan dengan cara mengamati kegiatan siswa
dalam melakukan sesuatu. Oleh karena itu dalam penilaian kinerja diperlukan
instrumen berupa lembar pengamatan atau lembar observasi. Penilaian kinerja
berguna untuk mengukur keterampilan siswa melakukan kinerja tertentu. Contoh
kinerja yang dapat diamati antara lain: bermain peran, memainkan alat musik,
bernyanyi, membaca puisi/deklamasi, menggunakan peralatan laboratorium,
mengoperasikan suatu alat.
Beberapa
hal berikut ini adalah hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan penilaian
kinerja (Pedoman Penilaian Kelas, 2004: 15-16).
1.
Langkah-langkah kinerja yang diharapkan agar dilakukan siswa untuk menunjukkan
kinerja suatu kompetensi
2. Ketepatan
dan kelengkapan aspek yang akan dinilai dalam suatu kinerja
3.
Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas
4.
Kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati
5. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan
berdasarkan urutan yang akan diamati.
Penilaian
kinerja dapat dilakukan melalui: (1) penilaian tertulis (paper and pencil), (2)
identifikasi, (3) simulasi, dan (4) memberi contoh kerja (work sample).
Muhammad
Nur menjelaskan beberapa komponen-komponen dari penilaian kinerja dalam suatu
pembelajaran, antara lain: (a) Tugas-tugas yang menghendaki siswa menggunakan
pengetahuan dan proses yang telah dipelajari. (b) Ceklis yang mengidentifikasi
elemen-elemen tindakan atau hasil yang diperiksa. (c) Seperangkat deskripsi
dari suatu proses dan/atau suatu continum nilai kualitas (rubrik) yang
digunakan sebagai dasar untuk menilai keseluruhan tugas. (d) Contoh-contoh
dengan mutu yang sangat baik sebagai model dari pekerjaan yang harus dikerjakan.
Adapun
kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam menyusun tugas kinerja adalah
sebagai berikut: (a) Esensial (essential), yakni tugas tersebut sesuai dengan
tuntutan kurikulum; (b) Otentik (authentic), yakni suatu proses penyelesaian
tugas tersebut sesuai dengan disiplin ilmu; (c) Kaya (rich), yakni tugas
tersebut mengarahkan pada masalah atau pertanyaan lain; (d) Mendorong
(enganging), yakni tugas tersebut menarik minat siswa untuk mengerjakan; (e)
Aktif (active), dalam hal ini siswalah yang mengerjakan dan mengambil keputusan
terhadap tugas tersebut; (f) Memungkinkan (feasible), yakni tugas tersebut
dapat terselesaikan di sekolah, maupun dirumah, juga aman sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa; (g) Layak (equitable), yakni tugas tersebut dimungkinkan
untuk dikerjakan oleh siswa dari berbagai tingkat kemampuan; (i) Terbuka
(open), yakni tugas tersebut memiliki lebih dari satu jawaban benar, sehingga
akan memungkinkan untuk dikerjakan melalui berbagai macam pendekatan. Dalam
kegiatan penilaian kinerja, pengamatan dilakukan pada saat terjadi proses
kinerja.
1.
Penilaian kinerja dalam pembelajaran matematika
Mengingat
bahwa kemampuan kinerja dalam matematika tak dapat dipisahkan dari kemampuan
kognitifnya (dalam hal ini pemahaman konsep dan penalarannya) maka uraian tugas
pada instrumen penilaian kinerja terintegrasi dengan instrumen yang digunakan
untuk mengukur kemampuan kognitif.
Instrumen penilaian
Kinerja kemampuan matematika dapat terdiri dari lembar pengamatan saja
(misalnya dalam kegiatan menggambar dan memberi nama sudut, membagi sudut yang
telah diketahui menjadi dua sama besar) atau kombinasi penilaian tertulis dan
pengamatan (misalnya dalam kegiatan
menggambar benda yang disebutkan sifat-sifatnya). Pada lembar pengamatan harus
didefinisikan aspek yang dinilai berupa perilaku yang diharapkan muncul dari
siswa selama proses kinerja. Selain itu juga dicantumkan cara penilaian atau
pedoman penyekoran. Instrumen penilaian kinerja dapat terdiri dari lembar
pengamatan (observasi) dengan daftar cek (check list) dan dengan skala rentang
(rating scale).
Standar
kinerja juga ditetapkan dengan menggunakan rubrik penskoran atau kartu
penilaian. Rubrik penskoran adalah seperangkat standar penilaian yang digunakan
untuk mengevaluasi kinerja siswa dan mengakses kinerja siswa33 . Untuk menilai
kinerja siswa,dalam rubrik penskoran digunakan kriteria-kriteria tertentu yang
bergerak dari umum ke khusus. Rubrik yang digunakan memuat empat skala
tangkatan (level) dari superior sampai tidak memuaskan.
Tabel.
Rubrik Penskoran Umum
Tingkatan
(Level)
|
Kriteria Umun
|
Kriteria Khusus
|
4
Superior
|
a) Menunjukkan
pemahaman yang lebih terhadap konsep-konsep
b) Menggunakan
strategi-strategi yang sesuai
c) Komputasinya benar
d) Tulisan
penjelasannya patut dicontoh
e) Diagram/Tabel/Grafik
tepat
f) Melebihi permintaan
masalah yang diinginkan
|
|
3
Memuaskan
dengan sedikit kekurangan
|
a) Menunjukkan
pemahaman yang lebih terhadap konsep-konsep
b) Menggunakan
strategi-strategi yang sesuai
c) Komputasinya benar
d) Tulisan
penjelasannya patut dicontoh
e) Diagram/Tabel/Grafik
tepat
f) Melebihi permintaan
masalah yang diinginkan
|
|
2
Cukup memuaskan dengan banyak
kekurangan
|
a) Menunjukkan
pemahaman yang lebih terhadap konsep-konsep
b) Menggunakan
strategi-strategi yang sesuai
c) Komputasinya benar
d) Tulisan
penjelasannya patut dicontoh
e) Diagram/Tabel/Grafik
tepat
f) Melebihi permintaan
masalah yang diinginkan
|
|
1
Tidak
Memuaskan
|
a) Menunjukkan
pemahaman yang lebih terhadap konsep-konsep
b) Menggunakan
strategi-strategi yang sesuai
c) Komputasinya benar
d) Tulisan
penjelasannya patut dicontoh
e) Diagram/Tabel/Grafik
tepat
f) Melebihi permintaan
masalah yang diinginkan
|
Pertanyaan:
Tidak semua tugas dalam pembelajaran matematika bisa digunakan penilaian kinerja, bagaimanakah cara kita mengetahui tugas yang sesuai dalam Penilaian Kinerja?
Tidak semua tugas dalam pembelajaran matematika bisa digunakan penilaian kinerja, bagaimanakah cara kita mengetahui tugas yang sesuai dalam Penilaian Kinerja?

